Beranda chevron_right Sejarah

AKAR YANG TUMBUH DARI LUKA

Ismy Syariah Rizky Rery

13 May 2026 • 3 menit baca

AKAR YANG TUMBUH DARI LUKA

Di Banda Neira, angin laut membawa bisikan masa lalu tentang tanah yang pernah menjadi saksi perebutan, kehilangan, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Setiap ukiran dan batu yang tersusun seolah menyimpan jejak manusia-manusia yang datang, berjuang, dan bertahan di tengah arus sejarah yang keras.
Seperti Perang Uhud, langit mendung dan perang yang berkecamuk saat itu, ada pelajaran tentang keberanian dan pengorbanan, tetapi juga tentang luka dan konsekuensi dari setiap pilihan.

Sejarah bukan hanya tentang kemenangan atau kekalahan, melainkan tentang bagaimana manusia belajar untuk bangkit kembali setelah jatuh. Di tempat ini, kisah itu tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan, dalam langkah kaki yang menyusuri pelataran, dan dalam ingatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi bahwa dari kepedihan, selalu ada ruang untuk memahami, dan dari sejarah, selalu ada kesempatan untuk tidak mengulanginya.

Sampai pada nenek moyangku, orang Wandan, kisah itu menjadi lebih dari sekadar sejarah,ia menjelma menjadi darah dan ingatan yang mengalir dalam diri.

Dari tanah Banda Neira, mereka pernah terusir, tercerai, dan dipaksa meninggalkan jejak yang telah lama mereka rawat.
Pala dan fuli yang harum itu menjadi alasan dunia datang, namun juga menjadi sebab mereka harus berjalan menjauh dari tanah kelahiran. Di balik itu, tersimpan bayang-bayang Pembantaian Banda 1621 sebuah luka sejarah yang tak mudah hilang, namun tetap hidup dalam cerita-cerita yang diwariskan.

Namun nenek moyangku tidak hilang. Mereka bertahan di tanah baru, dalam bahasa yang tetap dijaga, dalam doa-doa yang tak pernah putus. Mereka membawa serta ingatan tentang asal-usul, tentang laut yang pernah mereka seberangi, dan tentang rumah yang selalu mereka rindukan. Dan dari merekalah kami berdiri sekarang sebagai bagian dari kisah panjang itu.

Sebuah pengingat bahwa meski sejarah pernah mencoba memutus akar, nyatanya ia justru tumbuh lebih dalam, mengikat generasinya dalam satu narasi: tentang kehilangan, keteguhan, dan identitas yang tak pernah benar-benar padam.

Sampai pada nenek moyangku, orang Wandan, kisah itu tidak lagi sekadar diceritakan, ia justru hidup dan dirasakan. Ia berdiam dalam sunyi, dalam jeda napas yang seakan membawa gema dari masa yang jauh, dari tanah Banda Neira yang pernah menjadi pusat dunia, sekaligus saksi luka yang tak terucapkan.

Pala dan fuli bukan lagi sekadar rempah. Ia adalah alasan mengapa nama-nama dilupakan, mengapa bahasa dipelankan, mengapa identitas harus disembunyikan agar bisa bertahan.

Di balik harum itu, ada jejak dari Pembantaian Banda 1621, bukan hanya tentang kematian, tetapi tentang penghapusan: tentang bagaimana sebuah bangsa kecil hampir dihapus dari ingatan dunia. Namun yang tersisa justru lebih kuat dari yang hilang, lebih kokoh serta padu.

Nenek moyangku tidak hanya selamat, mereka beradaptasi dalam diam. Mereka menjadi bayangan di tanah orang lain, tetapi tetap menyimpan terang di dalam diri. Mereka mengajarkan tanpa banyak kata: bahwa bertahan tidak selalu berarti melawan dengan senjata, tetapi juga dengan mengingat, dengan menjaga, dengan tidak membiarkan jati diri larut sepenuhnya.

Ada bagian dari diri mereka yang mungkin telah berubah nama yang berganti, logat yang memudar, kebiasaan yang menyesuaikan. Tapi di lapisan paling dalam, ada sesuatu yang tidak tersentuh: rasa pulang yang tak pernah benar-benar pergi.

Dan di sanalah aku berdiri di antara yang hilang dan yang tersisa. Membawa warisan yang tidak selalu tampak, tetapi terasa.
Sebuah kesadaran bahwa aku bukan hanya individu, melainkan lanjutan dari cerita yang pernah hampir dipatahkan.

Lebih dalam dari sejarah, ini adalah tentang ingatan yang menolak mati. Tentang akar yang tetap mencari tanahnya, meski telah tercerabut. Dan tentang harapan sunyi bahwa suatu hari, semua yang terpisah akan menemukan cara untuk saling mengenali kembali.

Sepanjang abad manusia bagi kami generasi Wandan perang adalah niscaya, seperti darah yang merendam pakaian merah sehabis perang.


Ambon, 30 Maret 2025



Sukai artikel ini?

Bagikan agar temanmu terinspirasi.

Artikel Terkait