Beranda chevron_right Prosa

ARSIP YANG TUMBUH DI TUBUH PEREMPUAN

Ismy Syariah Rizky Rery

24 May 2026 • 3 menit baca

ARSIP YANG TUMBUH DI TUBUH PEREMPUAN

Tubuh perempuan adalah arsip yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan waktu.


Ia menyimpan banyak hal tanpa suara: kenangan yang menetap di bahu, sedih yang berdiam di dada, juga luka-luka kecil yang tidak pernah sempat diberi nama. Dari luar, tubuh itu tampak biasa saja berjalan, bekerja, tersenyum, berbicara seperti hari-hari lain.


Namun di dalamnya, ada begitu banyak peristiwa yang terus hidup dan tidak benar-benar pergi.
Sejak kecil, perempuan belajar mengenali tubuhnya melalui banyak larangan. Cara duduk, cara tertawa, cara berpakaian, bahkan cara memandang dirinya sendiri. Tubuhnya tumbuh bersamaan dengan tatapan orang lain yang sibuk menentukan mana yang pantas dan mana yang berlebihan. Ia diajarkan untuk menjaga dirinya, tetapi jarang diajarkan bagaimana mencintai dirinya sendiri. Maka banyak perempuan tumbuh dengan hubungan yang rumit terhadap tubuhnya: tinggal di dalamnya setiap hari, tetapi sering merasa asing terhadapnya.

Padahal tubuh itu telah bekerja keras untuknya.
Ia tetap berdiri saat hati runtuh.
Ia tetap bergerak meski berkali-kali dipaksa kuat.
Ia menyimpan lelah tanpa banyak mengeluh, menyembunyikan cemas di balik wajah yang tenang. Dan seperti arsip tua yang disimpan rapat di lemari, tubuh perempuan menyimpan banyak hal yang tidak pernah dibicarakan kepada siapa pun.

Ada ingatan yang menetap pada kulit.
Tentang tangan yang pernah menyentuh terlalu kasar.
Tentang kata-kata yang membuat seseorang mulai membenci bentuk tubuhnya sendiri.
Tentang malam-malam panjang ketika perempuan harus menenangkan dirinya sendiri karena dunia terlalu bising dan tidak cukup aman baginya.

Namun tubuh perempuan tidak hanya menyimpan luka.
Di dalamnya juga tumbuh ketabahan yang pelan-pelan mengakar.
Ada keberanian yang lahir setiap kali ia memilih bangun setelah kecewa. Ada kelembutan yang tetap hidup meski berkali-kali disakiti. Dan ada cinta yang terus diberikan kepada banyak hal, bahkan ketika dirinya sendiri sering kekurangan kasih.

Tubuh perempuan adalah tempat kehidupan belajar bertahan.
Rahim, dada, tangan, pinggul, air mata, semuanya memiliki cerita masing-masing. Setiap bagian tubuh pernah menjadi saksi atas sesuatu: kehilangan, kelahiran, harapan, ketakutan, juga mimpi-mimpi yang diam-diam dipelihara agar tidak mati. Sebab menjadi perempuan sering kali berarti belajar tetap utuh di tengah dunia yang terus mencoba memecahmu menjadi banyak tuntutan.

Barangkali karena itu perempuan sering terlihat tabah.
Bukan karena ia tidak terluka, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu akrab dengan cara bertahan. Ia belajar menjadikan nyeri sebagai bagian dari hidup tanpa membiarkannya menghilangkan dirinya sepenuhnya.

Dan pada akhirnya, tubuh perempuan bukan sekadar rupa yang dilihat orang lain.
Ia adalah rumah yang penuh sejarah.
Sebuah arsip hidup yang terus tumbuh dari hari ke hari—menyimpan segala yang pernah datang, yang pernah hilang, dan yang tetap tinggal meski tak pernah diucapkan.



Sukai artikel ini?

Bagikan agar temanmu terinspirasi.

Artikel Terkait