Puan,
Matahari boleh lahir dari timur yang jauh.
Namun kehidupan sejati dikurung di dalam tubuh yang luluh.
Lihatlah, Puan : di balik daging yang lembut dan jemari yang ranum, ada sebuah Takhta legam tempat segala muasal berhimpun.
Rahim namanya, bukan sekedar daging, bukan sekedar ruang, ia adalah hukum alam yang paling purba, batu pondasi yang tak lekang.
Sebelum sejarah mencatat perang dan runtuhnya imperium besar, rahim telah menjadi tungku api yang menyala,
sunyi namun menggelegar.
Di sanalah letak kegelapan yang paling suci berdaulat, tempat darah dipaksa tunduk,
menjadi arsitek bagi jasad yang merapat.
Perempuan tak sekedar mengandung, ia adalah gerbang gaib yang kokoh, menahan badai penciptaan agar dunia luar tidak runtuh dan roboh.
Dinding-dindingnya adalah semenanjung batu karang yang legam, menampung jutaan kutukan dan berkah yang larut dalam malam.
Puan, Tuhan menitipkan kunci utama untuk memutar poros bumi, ia adalah laboratorium purba, tempat nyawa disaring dari ketiadaan, sebuah kuasa mutlak yang yang mendahului segala jenis peradaban.
Maka, berlutut lah di hadapan kuil yang paling arkais ini,
sebab dari sana seluruh raja, penyair, dan tiran pertama kali bermimpi.
Rahim di tubuh perempuan adalah takdir yang menolak mati,
sesuatu yang paling purba, yang menguasai kehidupan hingga akhir hari.