Firdaus, Namamu adalah surga,
tapi dunia menuliskan naskah neraka di kulitmu.
Sejak bayi, kau digendong oleh tangan-tangan yang mencintai dengan cara melukai, yang menafsirkan kasih sayang sebagai kepatuhan yang tak boleh dibantahkan Ia digiring waktu,
dilucuti harga diri, ditelan oleh tangan-tangan yang mengaku tuan.
Namun di titik nol. ketika segala nama, segala asa, ditanggalkan dari tubuhnya, ia justru menemukan dirinya.
Bukan lagi korban, bukan lagi bayangan,
Kau justru api yang menolak padam,
suara yang menolak dibungkam.
Firdaus, di sel yang dingin engkau membaca kebebasan, di balik jeruji engkau menulis perlawanan, bukan dengan pena, melainkan dengan darah yang mengalir sebagai saksi terakhir.
Dan ketika lonceng-lonceng kematian berdentang, bukan ratap yang lahir, melainkan kidung-kidung keberanian: telah menjelma menjadi awal. Firdaus, perempuan di titik nol, membaca kebebasan dari sepi sel penjara, dan menuliskan perlawanan dengan darahnya sendiri.
Ambon, 23 Oktober 2025